Hakikat Kefakiran kepada Allah
Hakikat Kefakiran kepada Allah merupakan kajian Islam yang disampaikan oleh: Ustadz Dr. Muhammad Nur Ihsan, M.A. dalam pembahasan Thariq al-Hijratain wa Bab as-Sa’adain (Jalan Kebahagiaan). Kajian ini disampaikan pada Jumat, 14 Rabiul Akhir 1448 H / 25 September 2026 M.
Kajian Tentang Hakikat Kefakiran kepada Allah
Adapun kekayaan yang mutlak dan sempurna merupakan sifat Allah ‘Azza wa Jalla yang senantiasa melekat pada diri-Nya.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ
“Wahai manusia, kalian semua adalah orang-orang yang membutuhkan Allah, sedangkan Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Fathir [35]: 15)
Seseorang tidak mungkin meraih kebahagiaan dan memperoleh bimbingan untuk menelusuri jalan-jalan kebahagiaan kecuali dengan memahami hakikat dirinya, menyadari betapa besar kebutuhannya kepada Allah, serta meyakini bahwa Allah Mahakaya dan Mahasempurna. Allah tidak membutuhkan hamba, sedangkan hamba senantiasa membutuhkan Allah. Allah tetap sebagai Pencipta Yang Mahakaya, sementara manusia tetap sebagai hamba dengan segala keterbatasan, kelemahan, dan kefakirannya.
Ketika seseorang memahami bahwa dirinya senantiasa membutuhkan pertolongan Allah ‘Azza wa Jalla, serta menyadari bahwa keberadaan, keselamatan, kebahagiaan, dan kesuksesannya bergantung kepada Allah, terbukalah gerbang yang luas untuk menelusuri jalan-jalan kebahagiaan.
Semakin seorang hamba mengenal Allah ‘Azza wa Jalla dengan segala kesempurnaan dan keagungan-Nya, semakin kuat keyakinannya tentang hakikat dirinya. Ia akan menyimpulkan hakikat eksistensinya dengan mengatakan,
…وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ… لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
“Segala taufik, bimbingan, dan kesuksesan hanya berasal dari pertolongan Allah. Tiada daya dan upaya kecuali dengan izin dan pertolongan Allah ‘Azza wa Jalla.”
Makna Kefakiran kepada Allah
Memahami kefakiran kepada Allah ‘Azza wa Jalla bukan berarti seseorang tidak memiliki harta, kedudukan, jabatan, atau apa pun di dunia.
Harta, kedudukan, dan segala yang dimiliki merupakan karunia serta nikmat dari Allah ‘Azza wa Jalla. Namun, seorang hamba harus meyakini bahwa dalam setiap gerak, langkah, aktivitas, kondisi, dan keadaannya, ia tidak mampu melakukan apa pun—termasuk berusaha, bekerja, belajar, dan meraih sesuatu—kecuali dengan pertolongan Allah ‘Azza wa Jalla.
Karena itu, seorang hamba senantiasa bersandar kepada Allah, Sang Pencipta, yang di tangan-Nya seluruh kebaikan dan seluruh alam semesta. Allah yang mengatur, menguasai, memiliki, dan menciptakan segala sesuatu.
Seorang hamba hendaknya menyadari bahwa keberhasilan dan kesuksesannya hanya terwujud karena taufik dan bimbingan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Berbagai usaha yang dilakukan merupakan sebab. Seseorang harus bekerja, berusaha, dan bersungguh-sungguh untuk mencapai cita-cita, merealisasikan impian, serta mencapai tujuan. Ia memiliki target dalam kehidupan, menyusun tahapan, membuat rencana, mengatur strategi, dan memahami langkah-langkah yang harus ditempuh. Namun, ia senantiasa yakin bahwa semua itu tidak akan mendatangkan kebaikan, kemanfaatan, dan kesuksesan kecuali dengan pertolongan Allah.
Ikhtiar dan Ketergantungan Hati kepada Allah
Kemudahan tidak akan terwujud kecuali apabila Allah menakdirkan sebab-sebab itu mendatangkan manfaat. Kaum mukminin tetap harus berobat, belajar, berusaha, dan meminta bantuan kepada orang lain. Semua itu merupakan usaha dan sarana yang harus ditempuh.
Sebab-sebab harus diambil, tetapi hati tidak boleh terpaut dan bergantung kepadanya. Hati hanya bergantung kepada Allah, Dzat yang mengatur seluruh sebab.
Jangan terpedaya oleh dunia dan jangan tertipu oleh hawa nafsu. Keduanya merupakan penghalang besar yang membendung hati menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketika seseorang terpedaya oleh dunia dan bergantung kepadanya, serta tertipu oleh hawa nafsunya, ia akan kehilangan kejernihan berpikir dan kesucian perasaan dalam melihat sesuatu.
Apabila kehidupan dunia telah mendominasi hidupnya, ia akan menjadi budak dunia. Apabila hawa nafsu telah menguasai dirinya, ia akan menjadi pengekor dan budak hawa nafsu.
Ia akan tersesat, kehilangan sikap bijaksana, santun, dan tawadhu. Ia juga kehilangan ketundukan kepada kebenaran dan rasa takut kepada Allah. Sebaliknya, ia senantiasa membanggakan diri, merasa paling baik, melebihi segala sesuatu, dan mampu melakukan apa pun yang diinginkannya.
Dalam berusaha, bekerja, menyampaikan ilmu, berdakwah, dan memberikan kebaikan kepada manusia, tujuannya hanya popularitas dan pujian. Ia ingin amalnya dikenang, didokumentasikan, dan dilihat manusia.
Apabila keadaan itu terjadi, seseorang telah terjatuh dalam mabuk dunia dan mabuk hawa nafsu. Ia melupakan hakikat dirinya sebagai makhluk yang fakir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Seluruh Amal Merupakan Taufik Allah
Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu ta’ala menjelaskan bahwa orang yang memahami hakikat kefakiran kepada Allah ‘Azza wa Jalla akan berhenti memandang amal salehnya sebagai hasil kemampuan dirinya sendiri. Ia tidak lagi menganggap keberhasilan amal saleh sebagai hasil usahanya semata.
Seseorang dapat melaksanakan shalat karena Allah ‘Azza wa Jalla memberikan taufik. Ia dapat membaca Al-Qur’an dan menggerakkan lisannya untuk berdzikir karena Allah memberikan taufik dan bimbingan.
Bahkan sebelum membaca Al-Qur’an, Allah menanamkan cinta kepada Al-Qur’an dan dzikir dalam dirinya sehingga hatinya terdorong untuk berzikir dan membaca Al-Qur’an. Seseorang dapat menuntut ilmu karena Allah Subhanahu wa Ta’ala membukakan pintu ilmu baginya.
Seseorang dapat berdonasi dan bersedekah karena Allah mengaruniakan harta serta menggerakkan hatinya untuk mendermakan harta tersebut. Seseorang dapat istiqamah dalam beribadah karena Allah yang menjadikannya istiqamah.
Semakin banyak amal kebajikan seseorang, seharusnya semakin banyak pula rasa syukur dan pujiannya kepada Allah serta semakin kuat kembalinya ia kepada Allah. Bukan semakin besar rasa bangga dan kesombongannya.
Orang yang memahami hakikat kefakiran akan senantiasa menyadari bahwa seluruh keberhasilan merupakan taufik dari Allah.
وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ
“Dan mereka berkata: ‘Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk.`” (QS. Al-A’raf [7]: 43)
Hidayah tidak mungkin diperoleh kecuali dengan taufik dan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala. Para sahabat juga melantunkan syair ketika membangun masjid bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Syair itu bermakna bahwa tanpa pertolongan Allah, mereka tidak akan mampu melaksanakan shalat, berpuasa, dan bersedekah.
Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 yang penuh manfaat ini.
Download MP3 Kajian Tentang Hakikat Kefakiran kepada Allah
Podcast: Play in new window | Download
Raihlah pahala dan kebaikan dengan membagikan hasil rekaman ataupun link kajian “Hakikat Kefakiran kepada Allah” yang bermanfaat ini, melalui jejaring sosial Facebook, Twitter, dan yang Anda miliki. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda.
Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com
Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :
Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv
Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56563-hakikat-kefakiran-kepada-allah/